Tampilkan postingan dengan label Adaptasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adaptasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Februari 2010

Chapter 13

Demi Tuhan, Aku shock gila

aku masih di sekolah, di kantin kebangaan kami ini. Kantin besar yang berada di belakang sekolah dengan kebun tanaman organik dan aliran air segar dari atas gedung. Martha yang biasanya menghampiriku dengan membawa nampan kesayangannya dari rumah, tidak masuk sekolah dan tumben juga tidak menelponku pagi ini.

Ellein berjalan ke arahku. Dia menaruh nampan penuh dengan makanannya ke meja ku. Dia berkata, 'kau baik-baik saja kan!' 'tentulah', jawabku sambil senyum dan dia tidak membalas senyumku balik. Sebal tapi apa mau di kata, itulah dia, bukan? Manusia dingin

setelah mengabiskan makanannya, di langsung berjalan pergi tanpa berkata sepatah katapun. Aku teringat dengan box yang diberikan Renee kepadaku pagi ini. Aku membukanya dengan kasar dan demi Tuhan, aku shock gila

aku mulai keringat dingin dan mulai berpikiran macam-macam. Wanita psycho, kataku dalam benakku. Aku bahkan tak bisa mengeluarkan kata itu dari mulutku karena shock abis.

Di kotak itu terdapat 10 tepatnya fotoku telanjang. Bugil tanpa berpakaian sama sekali. Foto-foto ini menangkapku foto per foto. Maksudku diambil saatku mandi kemarin. Gara-gara handuk itu. Apakah aku telah menutup jendela kamarku yang lebar itu atau belum yah, kataku dalam hati sambil menatap histeris foto-foto itu.

Aku mulai teringat kapan ini diambil. Renee mengambilnya selesai mandi kemarin. 'O my, kamu mau jadi Pap, foto saja selebritis, jangan aku!' teriakku. Aku baru sadar bahwa aku masih di kantin. Dan dan anak-anak yang lain melihatku aneh. 'you're superstar of literature class, Jo!, remember!' cetus Alaina. Jessica senang banget kayaknya dan yang lainnyapun tertawa.

Chapter 12

KELAS LITERATUR

aku berlari menuju ruangan dimana kelas Pak Mottle-toe berada. Aku telat 10 menit dan guru literatur aku yang berusia 45 tahun itupun menegurku dan menyuruhku maju ke depan kelas dan menyuruhku bercerita sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal yang berbau literatur, seperti biasa. Horsa yang biasanya menjadi korban dan aku dan Nathaniel menertawakannya dan sekarang dia bisa tertawa terbahak-bahak di dua meja di belakangku.

"um, um, um.." kataku diawal sesuatu cerita yang bakalan menjadi aneh, sudah tentulah. aku tak tahu harus berbicara apa lagi. Sambil memikirkan apa yang akan kukatakan, aku melihat Ellein, aku senang manusia seperti dia masih keukeuh sekolah disini, menemaniku, sebagai manusia yang lain yah. Tapi dia sangat dingin. Seperti tidak pernah merasakan apa yang telah kita lewati bersama. Yah, at least dia tersenyum kek kepadaku.

guru literatur menepak bahuku dan berkata, 'kalau ulangan kamu jelek lagi, bapak tidak akan menaikkan kamu dari kelas bapak'. Aku tahu apa maksudnya dan aku langsung ,mengambil tasku yang tadi ku taruh bawah dan berjalan ke mejaku.

'whoau!' teriakku jatuh ke bawah lantai dan semuapun tertawa. biasa ini kerjaannya Jessica, menjulurkan kakinya seperti yang dia lakukan, selalu, ke Horsa. Maklum dia akan penggemar Literatur. Makanya kalau ada yang menggangu kelasnya pasti di jutek-in buat murid cewek dan melakukan 'ini' buat anak cowok. Dia hanya menaikkan wajahnya dan berkata, 'lanjutkan Pak Mottle-toe!!'

Jumat, 29 Januari 2010

Chapter 11 : Renee

Bel rumah berbunyi dan ibu membukakan pintu. Aku sedang mengunci pintu dan mendengar ibu menanyakan sesuatu ke seseorang yang sepertinya dia kenal. "Beau, turun ke bawah, Renee mencarimu!". Dalam hati bilang, "please ma, jangan panggil saya beau ke seseorang selain keluarga, ugh!" kesalku. dia juga menyuruh gadis tetangga kami itu masuk ke rumah tapi dia menolaknya.

Aku langsung berlari menuruni tangga dengan tas dibelakangku terpontang-panting. Aku merasa aneh kenapa gadis berambut hitam panjang itu sekarang ada di depan rumahku dan anehnya mencariku. Tumben sekali, pikirku.

Dia berdiri diluar pintu rumah yang masih terbuka. Dia sangat sadar dengan kedatanganku, dan langsung menoleh kearahku yang membuatku memberhentikan langkahku di depannya, di batas pintu rumahku. "ada apa yah, Renee?" tanyaku dengan terengah-engah. Dia tidak bilang sepatah katapun dan hanya memberikan sebuah amplop coklat dengan namaku lengkap di pojok kanan amplop tertutup rapat itu.

"apa ini?" tanyaku. Dia hanya tersenyum dengan kedua mata hijaunya menatap tajam ke arahku dan memutar tubuhnya yang tinggi, tidak lebih tinggi dariku, ke arah sebaliknya. Dia berjalan meninggalkanku sambil berkata, "aku tahu kamu sedang buru2, ketemu nanti malam!"

apa maksudnya ketemu nanti malam. Dan ini semua apa, di dalam amplop coklat ini. Sesuatu tidak beres, dia sangat tidak beres tapi aku senang Renee mencariku, at least ada seseorang mencariku pagi-pagi benar. Aku langsung melangkah dan mulai berlari menuju sekolah. Dan hilang.

Chapter 10 : Hari yang Melelahkan!!

hari yang cukup cerah, sinar matahari membangunkanku dari ketidaksadaranku. Tumben ibuku tidak mengedor-ngedor pintu kamarku, tidak seperti biasanya. Biasanya setelah dia merasa tidak ada hasilnya, dia mencari kunci serep kamarku sambil mengambil satu ember penuh air dan setelah masuk dia menguyurkannya ke muka ku. Dia tidak akan melakukannya sekarang, mungkin juga dia sadar bahwa dia akan capek sendiri membersihkan tempat tidurku. Haha lucu kalau melihat ibuku melakukan hal itu.

Aku berlari menuruni tangga ke lantai bawah, mencari adik, kakak, dan ayah yang biasanya juga menungguku di sana setiap pagi. Hanya ada ibu yang langsung mengelengkan kepalanya ke arahku dan tersenyum dan langsung bilang, "kau kelihatannya sangat capek tadi malam, makanlah beau!" dia memanggil nama pendekku ketika kita aku masih kecil dan masih tinggal di Perancis. Beau artinya Cakep. Yah cukup senanglah aku.

"ma, aku akan ke sekolah hari ini. Aku ada ulangan sepertinya" kataku sambil menarik satu kursi dan langsung kududuki dan memakan sarapan pagi ibu yaitu omelette dan jus jeruk. Hmmm ibuku tidak mengucapkan satu patah katapun, dia hanya membelai rambutku kearah belakang, merapikan rambutku yang berantakan. Dan langsung pergi menuju dapur untuk mematikan kompor gasnya.

Selesai makan, aku langsung menuju ke atas untuk membersihkan diri, yah mencuci muka dan gosok gigi termasuk membersihkan diri kan. aku melihat jam sambil memakai baju seragam kebanggaan, tepat pukul 10 pagi, waktu istirahat di sekolah. Cukuplah 20 menit sampai ke kelas melewati jalur kanan sekolah. Dan aku berharap bertemu sama murid baru, yang kemarin mengalami peristiwa yang cukup menyeramkan.

Jumat, 08 Januari 2010

CHAPTER NINE : berisik ,like hell

aku sampai di rumah masuk melalui jendela rumah dan syukurlah diriku sudah dalam keadaan kering. Ibu sudah membawakan makan malam ke kamar untukku, biasa aku tidak biasa makan bareng dengan ayah, ibu, Alec dan Milli, dalam kurung keluargaku, karena tidak suka saat mereka makan dengan tidak ada tata krama. ibu sedah menyiapkan soup kentang bercampur keju beserta 5 bakso dalam ukuran sedang di mangkok besar, dua helai roti putih bertabur seledri kering dan air putih di dalam botol besar. cukup aneh memnag untuk minumanku tapi itu hal yang aku suka, aku tidak perlu lagi turun ke bawah dan melihat ruang makan berantakan dan ikut membereskannya.

sebelum aku sentuh makanan tersebut, aku biarkan jiwa ini membawa tubuhku ke kamar mandi untuk membersihkan darah dan debu yang menempel selama perjalanan pulang bersama pohon-pohon hijau nan tinggi ke arah rumah. 30 menit kemudian aku keluar dari kamar mandi dan tak ada handuk di kamar mandi, pasti Alec mengambil handuk biru langitku, rintihanku kesal. jadi aku keluar kamar mandi dengan bertelanjang semua. there's only me and God who creates me, so i feel no embarrashment, pikirku dengan mengerakkan tubuhku seperti anjing yang habis tercebur.

aku menghabiskan makan malamku dan teringat ke jadian tadi siang di sekolah, gadis baru, Ellein, kalung berinisial T, asalsekolah terkenal, seorang seperti aku, dan darah yang membawa kita lebih dekat. hmmmmm, aku menghembuskan nafasku dan mulai menelpon Wah, teman lamaku di smp. dia pasti sudah berada di kamarnya dengan bantal di kepalanya berniat untuk tidur. aku kira jam dindingku menunjukkan jam 8 malam, dan ku pikir tak apa-apa menelpon anak seumuranku dan menggangunya sedikit.

telpon berdering dan cukup lama dia tidak menjawab telponku. dan tiba-tiba,seorang wanita, mugkin 4 tahun diatasku, menjawab. "Iya, ini siapa? dan mau ngomong sama siapa? dan mau perlu apa?" cetusnya. aku mulai merasa tidak enak menelpon rumahnya, habisan hanya nomor rumahnya yang masih ku punya selama 2 tahun tidak keep in touch dengannya. "Saya Jon dan saya temannya Wah waktu di smp Garlandis dan saya mau mengobrol denganya sebentar!" jawabku tegas dan lengkap seperti yang wanita ini inginkan. aku paling tidak suka dengan wanita judes dengan kata-kata yang menyinggung perasaan. "Wah is out of the country, you freak!!" jawabnya dengan langsung menutup telepon. 1 detik sebelum dia menutup teleponnya dengan cepat, aku dengar suara berisik. it was like in hell..

Kamis, 07 Januari 2010

CHAPTER EIGHT : just 2 of us

air membasahi mukaku dan Ellein masih berada dalam pelukan eratku. aku angkat dirinya ke tepian sungai yang telah membawa kita jauh dari iblis-iblis itu. saat aku dekatkan wajahku, dia mengeluarkan banyak air dari mulutnya dan menyemprotkan tepat ke muka ku. membuatku sangat sangat sadar, terima kasih, dari ketidaksadaran aku terbawa arus. dinginnya air sungai daerah yang aku tempatkan ini masih sangat terasa. serasa muisim dingin baru saja menghilang terbawa arus panas dari arah selatan negeri ini.

darah yang berada di keningnya dan tangannya sudah tak tercium dan tak terlihat, hanya noda pekat di kaos Londonku. dia menatapku aneh karena mengetahui dirinya bersama diriku basah-basahan. dan mengetahui diriku tak berpakaian, maksudku, tak berkaos!

tapi gadis ini memang bukan gadis cantik dan bodoh, seperti Jessica dan si kembar. dia justru malah bilang terima kasih atas bantuanku menyelamatkan dirinya dari teman barunya yang jahat itu. "Kau pasti merasa sangat dingin sekarang?" tanyanya dengan bibir mengigil. " hmmm, gak juga!" jawabku sambil menutup bibirku dengan cepat supaya tak terlihat gigilanku.

aku yang basah-basahan dan bertelanjang dada dan dia yang berpakaian penuh , basah juga, dan mengigil keras, mulai berjalan ke arah atas sungai tersebut. sebuah jalan setapak yang menuju ke sebuah jalan kecil, jalan alternatif, menurutku ke sekolahku. jalan yang sangat sepi, mungkin hanya Dan dan adiknya, Daanish yang melewati jalan ini untuk pergi sekolah, memeng karena kebetulan mereka jalan kaki ke sekolah ini. untuk mobil ayahku mana mungkin muat melewati jalan ini.

kita mulai berjalan dan berjalan menuju balik ke arah sekolah. "lepaskan kaos itu!" kataku cepat ke arah Ellein yang sekarang sedang berada di depanku berjalan mengigil dengan rambut panjang hitamnya yang maish basah menyatu. "Oh, ini kan kaos kamu yah?" dia menanya balik dengan tampang yang merasa seakan tidak enak karena diriku sekarng telanjang dada karena dirinya. "iya, tidak apa-apa!" aku ambil kaos itu dan ku lempar ke arah sungai yang berada di samping bawah arah kita berjalan ke jalan besar. tak ada banyak kata yang keluar dari bibir kita selama perjalanan. yang aku dengar hanya suara rintihannya, mungkin karena luka sayatan saat tergantung di pohon, mungkin juga goresan tangan iblis Jessica dan pentokan keras di keningnya. tak bisa yang lebih aku lakukan kepadanya hanya mengumam, hmmmmmmmm untuk menandakan diriku baik-baik saja berada di belakangnya.

seharusnya aku bisa mengandeng tangannya, menghangatkan dirinya dengan berpelukan, mungkin, menghangati satu-sama lain seperti film romantis yang pernah aku lihat. tapi hal-hal itu urung aku lakukan, karena dia bukan pacarku dan karena dia teman baru yang notabene baru aku kenal beberapa jam yang lalu.

aku berhentikan sebuah taksi yang melintas di jalan besar yang kita sedah capai dan membiarkan dirinya naik sendirian. "kau tak ikut?" katanya dengan rasa aman sekarang. "nggak, rumahku dengan dari sini" kataku bohong.

taksi berwarna hitam klasik itu meninggalkan diriku di jalan besar itu sendirian. dan ku mulai berlari dengan cepat dan meloncat indah ke pepohonan di sampingku menghilang cepat...

Rabu, 06 Januari 2010

CHAPTER SEVEN : Darah, Darah dan Darah

dirinya terjatuh dengan keras dan dia mencoba untuk bangkit tapi tak bisa. aku lah yang seharusnya melakukan ini. aku bangkit dari sandaran badanku di tempat tidur panjang putih uks dan ku dorongkan dengan sekuat tenaga benda itu ke pintu. tangan-tangan mereka terjepit pintu dan ku ambil dengan cepat parfumyang berada di ruang uks tapi benda itu sudah tak berada disana. aku berlari ke jendela besar di samping ruangan dingin itu dan kupecahkan jendela. dua jendelanya.

aku angkat tubuh Ellein yang sudah tak sadarkan diri. mereka mencoba masuk tapi kulemparkan semua benda yang berada di dekat keberadaaanku disana. benda-benda itu malah diperebutkan oleh mereka karena telah berlumur darah. tak kusadari aku juga berdarah. sangat menyeramkan melihat darahku sendiri dan membuat diriku sedikit pusingdi keningku.

aku jatuhkan diriku dan diri Ellein dari jendela ruang uks. kami terjatuh ke pohon-pohon yang berada di belakang sekolah. cukup tinggi danaku harap Ellein tak merasakan betapa perihnya kulitku tersiska oleh batang dan ranting pohon-pohon itu. mungkin iblis-iblis itu sudahmemasuku ruangan di atas kita itu. aku hanya berusaha untuk bangkit dan tak aku temukan tubuh alabaster Ellein. dia tersangkut di sana, di atas batang pohon yang lumayan tinggi dariku.

"Oh My!!!" teriakku sambil menggerakkan kakiku yang sakit untuk memanjatmengambil tubunya. sebelum aku samapai memanjat jauh ke tempatnya tergantung, pohon itu bergoyang karena salah satu dari iblis itu ikut turun atau mungkin terjatuh dari atas, entahlah. aku hanya langsung turun dari batang pertama dan menagkap tubuh murid baru itu dengan hati-hati. dan akhirnya dia berada di pelukanku.

iblis berambut panjang itu, kukira iblis Jessica, masih berusaha untuk keluar dari ranting-ranting diatas pohon tersebut. aku berusaha keras untuk berlari secepat dan sejauh mungkin. tapi untuk sesaat bahwa aku tersadar, yang aku harus singkirkan adalah darah dan darah ini. darahku di tangan dan darahnya Ellein di kening dan lengannya yang mulai keluai dari perban kaos Londonku.

aku mulai pusing dan mengelengkan kepalaku dengan cepat ke kiri dan ke kanan berfikir apa yang tepatnya kulakukan untuk menyelamatkan diriku dan diri teman baruku yan juga seseorang yang sama denganku dan berbeda dengan iblis-iblis itu.

aku mulai panik dan tak bisa berfikir jernih tapi aku tetap berlari sejauh dan sekuat tenaga yang aku perjuangkan dan tiba-tiba aku terjatuh dan merasakan cairan dingin menutupi diriku dan tak kulepaskan, tak akan, diri gadis bernama Ellein.

Selasa, 05 Januari 2010

CHAPTER SIX : Ellein

hari ini ku fokuskan perhatianku ke murid baru bernama Ellein. Gadis yang sangat aneh tapi cukup membuatku mengigil ketika dia sadar dan membalas tatapanku. sudah 10 kali dia membalas tatapanku sejak pelajaran bahasa perancis pagi ini. sekarang jam 12.30 siang dan saatnya aku dan teman sekelasku enjoy our lunch di kantin kita. Martha dan Dan sudah menungguku di depan pintu keluar kelas.

hari ini sebenarnya kau butuh sendirian. tapi setelah kupikir-pikir lagi tak apalah ada dua teman yang cukup care kepadaku. membantuku berjalan ke kantin sekolah yang letaknya memang cukup jaud dari kelasku. aku masih saja membayangkan apa yang kulihat di leher gadis itu, sebuah liontin perak berawalan huruf T. apakah itu sebuah awal nama seseorang. dan aku tak akan mencoba menatapnya untuk yang ke-11 kalinya nanti di kantin.

sesampainya di kantin sekolah, kulihat Jessica, Alistair dan Alaina sedang menggangu Ellein yang kebetulan sedang duduk dengan laki-laki ter-hot di sekolahku, well, at least itu yang pernah Martha bilang ke aku saat kita masih duduk di kelas 6.

Geng cantik itu mengeluarkan cakar mereka dan yang membuatku tercengang adalah keluarnya darah segar dari tangan alabasternya Ellein. semua teman sekelasku dan murid yang berada di kantin langsung berdiri dan mulai berlarian ke arahnya. termasuk Martha dan Dan membuka mata lebar mereka dan hidung mereka menjadi lebar untuk mencium apa yang membuat mereka excited. kubuang makanan beserta nampan yang kubawa menuju ke meja kosong dan kuberlari tertatih-tatih ke arahnya juga. bukan untuk menyerangnya seperti yang lain tapi menolongnya. dia seorang manusia sepertiku. akhirnya. senyumanku hanya berkembang di hati saja saat mengetahui bahwa dia sepertiku tapi kututp semua hatiku untuk berlari dan menolongnya dengan senyuman masam ke yang lain. ku sobek t-shirtku dan kulipatkan ke kedua tanganku dengan segera. rasa sakit di kudua lengan dan kakiku tak terasa sama sekali.

kulihat Ellein berusaha keluar dari gerombolan orang tak normal itu dengan berteriak kepada mereka dengan keras. itu percuma, kataku dengan melompat ke arah wajah teman-temanku yang sekarang sudah tak ku kenal dan lebih ke wujud iblis. they are not my friends!!

Mereka tak menyerangku seperti mereka mau menyerang Ellein. ku tarik tangannya dan dia menamparku dengan keras sampai aku terjatuh. aku bangun lagi dan menaparnya juga, tak kuterima ada seorang perempuan menamparku kecuali ibuku atau -mungkin- my next pacarku. "aku sepertimu, musrid baru!!" teriakku dengan balasan mata lebar keluar dari bawah alisnya. ada ekspresi lega dari kerlipan matanya.

tangannya telah tertutup oleh t-shirt baruku dari London. tapi scent darah segar Ellein masih tetpa tercium. sial aku tak membawa parfum tak beraromanya ayah yang dia semprotkan ke tangan dan kakiku pagi ini di mobil, teringatku. ku mendapat cakaran dari iblis-iblis itu, begitu aku menyebutnya. tapi beruntung itu hanya menjadi tanda merah di dada dan tubuhku dan tak mengeluarkan darah. ku tendang dengan sekuat tenaga mereka yang telah banyak berkerumun di depan aku dan Ellein. tapi tak berhasil menjatuhkan mereka malah membuat kakiku sakit. Ellein juga menampar wajah-wajah mereka yang berusaha untuk "mencium" lehernya. tapi tak ada kata-kata "owww, sakit!" dari mulut mereka. ku tendangkan kakiku untuk terakhir kalinya dan berhasil membuat celah untuk kita keluar dari kerumunan itu.

ketika kita mulai berlari dan meninggalkan mereka di belakang. rambut hitam panjangnya Ellein tersangkut ke jari-jari mereka. dia merogoh tangannya ke saku celana panjangnya dan keluarlah sebuah gunting kecil. ku pikir itu akan digunakan untuk memotong jari-jari itu tapi dia malah memotong rambut tipisnya dengan hitungan detik terlepaslah dia dari tangan ayang akan memakannya hidup-hidup.

kuterjatuh dikolam kantin karena tarikan mereka, Ellein menopangku dan kita mulai berlari ke arah mana saja. maksudku dia! karena dia murid baru. ku sarankan membawaku ke ruang guru tapi banyak guru yang sudah menjadi iblis dan siap menerkam kita. kita langsung menuju ruang uks dan menyuruhnya menutupnya dengan apapun. tapi dia terdorong jatuh dengan keras..

Senin, 04 Januari 2010

CHAPTER FIVE : Murid Baru

ayah menopangku jalan kesekolah dengan perban besar dan tebal di lengan dan lututku. dia juga menyeprotkan sejenis parfum tidak berbau di sekitarnya. ayah masih saja telihat apanik akibat kejadian ini. mungkin perjalanan ke sekolah Alec, dia akan memikirkan bahwa dia telah salah menempatkan aku di sekolah ini. mungkin juga aku akan di pindahkan ke daerah yang aman. daerah karantina! at least, aku tak perlu memikirkannya sekarang. karena Martha sudah menungguku di depan tangga menuju kelasku dengan keadaan yang lebih baik.

aku masuk ke kelas dengan bantuan Martha, dia sangat perhatian dan tak pernah terpikir olehku bahwa dia juga sangat berbahaya. begitupun teman sekelasku bahkan semua orang yang ada di sekolah ku. ini kejadian kedua yang terjadi pada bulan ini. my life is on the stake!!

Aku mulai menengokkan kepalaku ke arah kiri dan kulihat Martha sedang menuliskan sesuatu ke kertas yang berada didepannya dengan spidol berwarna hijau tosca, kesukaannya. ku arahkan perhatianku ke arah kanan sekarang dan kulihat Jessica, melihat kerahku dan biasa mengeluarkan satu kata kepadaku, sudah bosan aku mendengarnya dan melihat ekspresinya, "What?"tentu saja tetap kelihatan menawan seperti biasanya tapi sangat arrogant buat tipeku. di belakang, Shia dan Alonzo bercakap tentang pertandingan basket yang bakal terjadi di sekolah ini melawan tim bebuyutan basket kita minggu depan. satu pertandingan yang bakalan aku tinggalkan dan memang tak seharusnya ku berada. Didepanku, Dan menatap dan mulai bertanya, "Sudah selesai belum PR bahasa perancisnya, boleh liat?" dengan muka dungunya menatapku. ku jawab saja, "belum!" dan ambil beberapa buku paket bahasa perancis di tasku dan kita semua akan kena masalah dengan Bu Sabine, guru bahasa prancis kita kecuali untuk Jaques, yang notabene, berasal dari negri romantis itu.

Bu Sabine masuk dengan mengandeng tangan putih alabaster seorang gadis baru yang memang baru kulihat saat itu juga. di senyum lebar ke seluruh orang yang ada di kelas, senyumannya mengalahkan senyuman manis, slash, arrogantnya Jessica, senyuman evilishnya yang kusuka sih, Abbey dan senyuman yang setia kuterima setiap harinya Martha bahkan Senyuman orang perancisnya Bu Sabine yang kusuka pun ikutan kalah. tak hanya senyum ke semua orang yang berdasa di kelas, mungkin dia senyum kesemua benda yang ada di kelas -lumayan-besar kami. agak aneh banget tapi mungkin gadis ini adalah gadis keturunan psyCHIC yang akan aku selidiki.

Bu Sabinepun mendorong gadis ini kedepan ruangan kami. dia masih tersenyum lebar dan mulai berkata, " Hai, aku Ellein dan aku anak pindahan dari sekolah high tormeii!" senyumnya makin lebar. dan kuperhatikan sekelilingku dan mereka tercenga dengan takjub. aku sendiri juga ikutan. bkan karena cantiknya gadis baru ini- yah termasuk sih- karena dia berasal dari sekolah High Tormeii!! what the hell she is thinking, pindah ke sini, pikirku.

"Jelek!" Jessica menyeletuk. diikuti dengan suara cekikikan geng setianya, si kembar Alaina dan Alistair. Dan pun menyela, " nggak baik menyambut teman baru kita dengan berkata begitu!" dan Bu Sabine mengganguk setuju. Alaina mulai ikutan, "go to hell, Nerd! " katanya ke Dan sambil mengibaskan rambut pirangnya ke belakang, yang pasti membuat Nathaniel tambah kesal hari ini. dia sangat benci rambut pirang panjang.

Bu sabine mengambil alih dengan berkata, "berikan bangkumu untuk Ellein, Jess!" Jessica tercenga lebih lebar lagi dan semuanya pun tertawa. "But..." Jessica ingin menyangah tapi terburu Bu Sabine berkata lagi, "Now!!!" dengan keras..

Minggu, 03 Januari 2010

CHAPTER FOUR : Martha mencoba mengigitku

untunglah orang rumah sudah datang kembali dari London dan biasanya diriku pergi sendirian ke sekolah, ayah mengantar kami. Alec yang mengesalkan duduk didepan dengan ayah, mendengarkan music melalui i-phonesnya dan kita bisa dengar lagu apa yang sedang diputar di music playernya sekarang, lagunya leona lewis. sungguh aneh tapi aku juga suka dengan lagu soundtracknya Avatar itu. tawaku kecil di bibir. sementara ayah sibuk menyetir dan menjawab telepon dari partner kerjanya di kantor, milli mulai bertanya sama ayah kalau dirinya tidak mau dijemput sepulang sekolah. "come on, mil!" kataku melotot kedirinya. ia masih sangat kecil untuk pulang bareng Markee, teman-garis miring- teman dekatnya. dia baru 10 tahun. aku saja belum punya teman dekat.

tiba-tiba telpon genggamku berdering keras dan ternyata Martha menelpon, menanyakan apakah aku dapat menjemputnya pagi ini. seperti biasa! dan seperti biasa pula kebilang ke dirinya bahwa aku tak bisa menjemputnya karena ayahku yang mengantarku. dan tiba-tiba pula ayah bercetus "kita akan jemput kamu, Martha!" kukecilkan mata kiriku dan kumonyongkan bibir kecilku kedepan dan bertanya-tanya dalam hati. "apa sih maunya ayah?" ayahku hanya tersenyum begitu juga Milli.

Martha naik ke mobil. kita duduk bertiga dibelakang mobil ayah yang lumayan berantakan karena kemarin habis dipakai jalan-jalan. dia duduk ditengah-tengah kami, aku dan Milli. ada sedikit yang aneh dari dirinya. tapi tak kuteruskan "scanning" aku pada dirinya. kulihat jendela mobil dan jalanan yang terus berjalan cepat..

Martha tiba tiba menggigitku dengan cepat. dua taringnya yang tajam keluar dari mulutnya yang penush dengan nafsu. "Martha, tenangkan dirimu!!" kataku keras. Milli mencengkram kepalanya supaya tidak ada taringnya yang menusuk ke bagian tubuhku. Alec sepertinya tak sadar apa yang sedand terjadi, dia tetap mengoyangkan keplanya mengikuti irama di lagunya, entah lagu keberapa dan lagu apa yang sedang terputar di playernya itu, saat ini bukan menjadi concern terbasar aku. Ayah tiba-tiba me-unlock pintu mobil dan mulailah aku terjatuh di jalan. untungnya ayah sudah memeperlambat laju mobilnya. luka ku semakin membuat Martha jadi gila. tak kusangka dia akan begitu terpengaruh dengan aliran darahku pagi-pagi buta ini.

Kamis, 31 Desember 2009

CHAPTER THREE : Akhirnya Pulang

'JON! JON! JON!' teriak seorang wanita di pintu dengan mengetuk keras pintu depan rumah yang catnya sudah mulai terlupas. suara wanita kecil juga terdengar cerewet dengan disanggah suara berat pria yang kira-kira umurnya tiga tahun diatasku. sementara suara mesin mobilmasih menderu di perkarangan rumah.

'iya' kataku kecil. akhirnya kujulurkan kepalaku keluar jendela yang tepat diarah belakang tempat tidurku. dengan mata yang masih mengantuk, kulihat mereka tidak asing lagi buat diriku dan hidupku. mereka keluargaku. 'akhirnya kalian balik juga!' kataku sambil merintih kesakitan karena kepalaku terbentur lumayan keras ujung jendelaku.

'JON, kamu tidak pernah membersihkan rumahmu ini!' kata ibu sambil melotot ke arahku dengan membawa sebungkus kantong besar. kupikir itu adalah oleh-oleh untukku, atau juga bukan. Millianne menjulurkan lidahnya kepadaku dan berteriak keras saat melihat tumpukan baju kotor disamping kamar pinknya itu. Alec juga tertawa melihat dia dan menepuk pundakku dengan kata hi, buddy dengan senyum lebar. "gimana kabarmu selama dua minggu bebasmu?" kebalas saja dengan jawaban cetus, "it's hell!" diapun tertawa dan langsung naik tangga dan kekamarnya yang tak jauh dari kamarku.

kulihat ibu mengangkat semua baju kotorku disamping kamar Milli. dia sepertinya kelihatan kesal bangat. kurasa aku juga bisa seperti dia juga kalau anakku nanti melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan. tawaku kecil di hati.

kubuka pintu depan dan membiarkan tubuh ayahku masuk dengan tumpukan kardus di depan mukanya. "makasi, anakku!" katanya dengan cepat menuju ruang tamu dan diapun memintaku membantunya membawa barang-barang yang masih tertinggal di mobil. sepertinya masih banyak. kupanggil Alec untuk membantu tapi tak ada jawaban darinya. biar kuhajar dia saat aku keatas.

aku penasaran apa yang mereka bawa untukku dari cottagenya paman Ericson di London. aku berharap sih sesuai dengan keinginanku, tapi kutak berharap banyak karena biasanya mereka membelikan sesuatu yang tak sesuai dengan keinginanku. Alec dan Milli pasti yabg memilihnya dan mereka pasti sudah tertawa selama perjalanan pulang. pantesan kupingku terasa panas semenjak kemarin. kumajukan bibirku ini sambil mengangkat kardus-kardus kedalam rumah.

Minggu, 27 Desember 2009

Duniaku.. Adaptasiku.. Peradabanku.

CHAPTER ONE ... Pagi ini

alarmku berbunyi keras pagi ini membangunkanku dari tidur yang belum cukup mantab , kukira!, kubergegas ke kamar mandi dan ku basuhkan air yang dingin ke tubuhku.. tidak membutuhkan waktu yang lama buat ku untuk memilih outfit pagi ini, kuambil keperluan pagiku dan wusssssssssss ku tancap gas.. diperjalanan ku hampir saja tertabrak dan ditabrak.

tertabrak oleh seorang tua bangka yang tak sabar menunggu lampu merah berganti menjadi hijau, tapi sepertinya tampangnya lebih galak daripada aku yang hampir tertabrak olehnya, hmmmm sampai tujuan aku juga hampir ditabrak, tapi kali ini hampir ditabrak oleh seorang wanita geulis asal sunda, kalo tidak salah. "maaf yah!..." ucapnya manis. "it's ok!" ucapku terkesima...

..pikiranku masih ke gadis tersebut sampai di sekolah. What the..? kataku dalam hati. kulangsung keatas membawa kaki ini melaju dengan cepat karena ternyata aku telat 10 menit. pelajaran pertama pun dimulai dan itu membosankan- gurunya, pelajarannya atau aku yang membosankan- aku pun tak tahu!..

i just hope the bell rings soon enough, kataku dalam hati. yup, akhirnya bellpun berdentang keras. Guru bahasa inggrisku memanggilku dengan keras.. "JON!!" "Yeah, sir!" kataku dengan kaget. ternyata dia menyuruhku membantunya membawa lembar paper test kemarin kee ruangannya. nggak tahu kenapa pas ditangga, kepalaku ter...tatih kepusingan dan terjungkalah aku ke bawah dan ...

jatuh terbentur kepalaku.. ku langsung ke ruang uks sekolah tanpa mempedulikan paper test yang terbang berserakan di lantai tangga. darahku menetes deras dan membuat ku sangat gugup. ku langsung perban kepalau sendiri dengan tanganku yang memerah. mereka bereaksi sangat cepat dan ku kunci pintu rapat-rapat, ku menggigil ke ..

takutan dan mendorong meja besar coklat ke belakang pintu yang telah terkunci dan "Braaaaaaaaak!" mereka mencoba masuk dan ku pecahkan kaca uks karena ku pikir tak ada waktu untuk membuka kuncinya dan ku semprotkan pewangi ruangan supaya bau darahku tidak terdeteksi tapi mereka tetap menendang dan mencoba masuk ke ruangan sempit itu, dan ..

"Gosh!!" kataku dengan menghela keningku dengan perban yang telah kubalut di tanganku dengan rapat. ku buku pintu ruang uks dan berjalan ke kantin, rasanya tidak lapar lagi tapi ku harus makan karena ku tahu akau ada asma. sebelum ku belok ke kantin, ku berlari dan mengambil serakan kertas seraya membantu guru bhs ingg...risku yang tengah jongkok mengambil kertas-kertas putih itu.



CHAPTER TWO . Welcome to MY -only- world

welcome to my world! kayanya kata yang tepat untuk mengambarkan kehidupan baruku ini. sesuatu yang baru, lebih tepatnya, lingkungan yang baru. dua dunia yang berbeda. menyeramkan, mungkin, sudah jadi biasa bagiku. kita harus bisa jaga-jaga diri, lebih khususnya, aku. karena semua orang di duniaku ini siap memakanku hidup-hidup!

Kamis pagi yang cerah, biasa ku telat lagi ke sekolah. Martha menelponku meminta aku menjeputnya. jelas saja aku tak bisa, aku sedang mandi saat itu. oh ya, Martha adalah teman baikku, sangat baik bisa dibilang. dia dan aku sering nonton bareng. film terakhir yang kita tonton adalah REAL. film yang buat kita nunggu ber...jam-jam sampai kakiku pegel abis. dia sangat terharu oleh film itu.

film tentang manusia normal. tidak aneh bagiku.. hari ini kuharap tak ada yang berubah. tak ada yang aneh yang akan terjadi pada mereka. dan berimbas kepadaku. lagi.

kumasih ingat jelas banget Martha menagis di film itu, kalau dia adalah manusia normal, bisa dibilang itu tangisan palsu. dia hanya menghela pipinya yang tak basah sama sekali. lucu dan aneh tapi ku "ignore" saja selama film itu berlangsung

setelah nonton sama dia, kuantar dia pulang dan kubawa diriku juga pulang kerumah dan istirahat like forever for me. hari ini tak ada yang janggal sama sekali sama orang-orang di duniaku ini, asyik kataku dihati sambil menutup mata yang lelah ini.

sekarang jum'at dan aku berada di tangga menuju kamar ibuku. kuhanya melamun sendiri seperti orang tak ada kerjaan, emang, pikirku! "hmm roti isi telur buat sarapan pagi ini boleh juga!" nyataku sambil berjalan menuju dapur.

rumah yang besar dan tak pernah kurasakan seperti ini ketika ibu, bapak, adik dan kakakku ada disini. tapi rindu juga sama mereka. "hope they have good trip!" cetusku sambil mencuci satu piring dari tumpukan piring kotor di wastafel. anak cowok ditinggal sendiri di rumah jadinya begini.

ku melihat ujung jalan menuju kamar Alec dan penuh dengan bungkusan snacks yang ku beli hari kemarin setelah mengantar Martha pulang. ku alihkan perhatianku dekat kamar Millianne, sudah menumpuk baju dan kaus kaki kotorku. kasian dia, kamarnya dekat dengan laundry basket!