air membasahi mukaku dan Ellein masih berada dalam pelukan eratku. aku angkat dirinya ke tepian sungai yang telah membawa kita jauh dari iblis-iblis itu. saat aku dekatkan wajahku, dia mengeluarkan banyak air dari mulutnya dan menyemprotkan tepat ke muka ku. membuatku sangat sangat sadar, terima kasih, dari ketidaksadaran aku terbawa arus. dinginnya air sungai daerah yang aku tempatkan ini masih sangat terasa. serasa muisim dingin baru saja menghilang terbawa arus panas dari arah selatan negeri ini.
darah yang berada di keningnya dan tangannya sudah tak tercium dan tak terlihat, hanya noda pekat di kaos Londonku. dia menatapku aneh karena mengetahui dirinya bersama diriku basah-basahan. dan mengetahui diriku tak berpakaian, maksudku, tak berkaos!
tapi gadis ini memang bukan gadis cantik dan bodoh, seperti Jessica dan si kembar. dia justru malah bilang terima kasih atas bantuanku menyelamatkan dirinya dari teman barunya yang jahat itu. "Kau pasti merasa sangat dingin sekarang?" tanyanya dengan bibir mengigil. " hmmm, gak juga!" jawabku sambil menutup bibirku dengan cepat supaya tak terlihat gigilanku.
aku yang basah-basahan dan bertelanjang dada dan dia yang berpakaian penuh , basah juga, dan mengigil keras, mulai berjalan ke arah atas sungai tersebut. sebuah jalan setapak yang menuju ke sebuah jalan kecil, jalan alternatif, menurutku ke sekolahku. jalan yang sangat sepi, mungkin hanya Dan dan adiknya, Daanish yang melewati jalan ini untuk pergi sekolah, memeng karena kebetulan mereka jalan kaki ke sekolah ini. untuk mobil ayahku mana mungkin muat melewati jalan ini.
kita mulai berjalan dan berjalan menuju balik ke arah sekolah. "lepaskan kaos itu!" kataku cepat ke arah Ellein yang sekarang sedang berada di depanku berjalan mengigil dengan rambut panjang hitamnya yang maish basah menyatu. "Oh, ini kan kaos kamu yah?" dia menanya balik dengan tampang yang merasa seakan tidak enak karena diriku sekarng telanjang dada karena dirinya. "iya, tidak apa-apa!" aku ambil kaos itu dan ku lempar ke arah sungai yang berada di samping bawah arah kita berjalan ke jalan besar. tak ada banyak kata yang keluar dari bibir kita selama perjalanan. yang aku dengar hanya suara rintihannya, mungkin karena luka sayatan saat tergantung di pohon, mungkin juga goresan tangan iblis Jessica dan pentokan keras di keningnya. tak bisa yang lebih aku lakukan kepadanya hanya mengumam, hmmmmmmmm untuk menandakan diriku baik-baik saja berada di belakangnya.
seharusnya aku bisa mengandeng tangannya, menghangatkan dirinya dengan berpelukan, mungkin, menghangati satu-sama lain seperti film romantis yang pernah aku lihat. tapi hal-hal itu urung aku lakukan, karena dia bukan pacarku dan karena dia teman baru yang notabene baru aku kenal beberapa jam yang lalu.
aku berhentikan sebuah taksi yang melintas di jalan besar yang kita sedah capai dan membiarkan dirinya naik sendirian. "kau tak ikut?" katanya dengan rasa aman sekarang. "nggak, rumahku dengan dari sini" kataku bohong.
taksi berwarna hitam klasik itu meninggalkan diriku di jalan besar itu sendirian. dan ku mulai berlari dengan cepat dan meloncat indah ke pepohonan di sampingku menghilang cepat...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
comments and correct it my students!!